Dari Involusi Pertanian ke Involusi Pendidikan: Catatan untuk Masa Depan Pesantren

  • 30 Maret 2026
  • 109 views
Dari Involusi Pertanian ke Involusi Pendidikan: Catatan untuk Masa Depan Pesantren

Oleh: KH. Izzat Fahd, M.Pd.

Pada akhir Februari lalu, dalam perjalanan menuju Jakarta, saya berkesempatan berdiskusi dengan KH. Ahmad Taufiq dari Pesantren Salafiyah Pasuruan. Percakapan itu tidak sekadar ringan, tetapi membuka ruang refleksi yang mendalam tentang arah pendidikan kita hari ini. Kiai Taufiq mengaitkan gagasan klasik Clifford Geertz tentang agricultural involution (involusi pertanian di Jawa) dengan fenomena pendidikan kontemporer, khususnya di lingkungan pesantren.

Dalam karya Geertz, Agricultural Involution: The Processes of Ecological Change in Indonesia (1963), dijelaskan bahwa sistem pertanian di Jawa mengalami intensifikasi tenaga kerja tanpa diiringi peningkatan hasil per kapita. Semakin banyak orang terlibat, semakin rumit prosesnya, tetapi produktivitas individu cenderung stagnan. Dengan kata lain, terjadi “kerja keras kolektif” tanpa lompatan hasil yang signifikan.

Kiai Taufiq melihat pola serupa mulai tampak dalam dunia pendidikan. Pertumbuhan lembaga pendidikan—termasuk pesantren—memang meningkat, jumlah peserta didik bertambah, program semakin beragam, namun pertanyaan mendasarnya adalah: apakah kualitas hasil pendidikan meningkat secara sebanding? Apakah setiap peserta didik benar-benar mendapatkan manfaat yang optimal?

Realitas di lapangan menunjukkan adanya ketimpangan. Sebagian lembaga mengalami kepadatan santri, sementara yang lain kekurangan peminat. Ada pesantren yang dikelola dengan sistem yang matang dan profesional, tetapi tidak sedikit pula yang berjalan sekadar mempertahankan eksistensi. Dalam situasi ini, peningkatan kuantitas tidak otomatis menghasilkan kualitas. Bahkan, tanpa manajemen yang tepat, pertumbuhan bisa justru menimbulkan stagnasi—sebuah bentuk “involusi pendidikan”.

Di sinilah letak pentingnya kritik terhadap orientasi pendidikan yang terlalu menekankan angka: jumlah siswa, jumlah lembaga, atau ekspansi program. Statistik memang penting, tetapi tidak cukup. Pendidikan sejatinya berbicara tentang kualitas pembelajaran, kedalaman pemahaman, serta relevansi ilmu dengan kehidupan nyata. Tanpa itu, pendidikan berisiko menjadi aktivitas rutin yang padat, tetapi miskin dampak.

Analogi yang disampaikan Kiai Taufiq sangat menarik: sawah yang sempit tetapi dikelola dengan baik bisa menghasilkan panen yang melimpah, sementara lahan yang luas tanpa pengelolaan yang cermat justru tidak produktif. Begitu pula pendidikan—yang menentukan bukan hanya besarnya sistem, tetapi kualitas pengelolaan, ketepatan metode, dan kejernihan tujuan.

Dalam konteks ini, pesantren memiliki posisi yang sangat strategis. Ia bukan hanya lembaga pendidikan, tetapi juga ruang sosial yang hidup dan berinteraksi langsung dengan masyarakat. Pesantren tidak hanya mentransfer ilmu, tetapi membentuk karakter, membangun cara berpikir, dan menanamkan nilai. Karena itu, pesantren tidak boleh terjebak dalam logika pertumbuhan kuantitatif semata, melainkan harus tetap berpijak pada kualitas, kedalaman, dan kebermaknaan pendidikan.

Lebih jauh, pesantren juga memikul tanggung jawab historis: menjaga kesinambungan tradisi keilmuan Islam sekaligus merespons perubahan zaman. Transformasi pendidikan tidak boleh tercerabut dari akar tradisi, tetapi juga tidak boleh beku terhadap realitas baru. Di sinilah keseimbangan antara al-muhafazhah ‘ala al-qadim as-shalih dan al-akhdzu bil jadid al-ashlah menjadi sangat relevan.

Refleksi ini membawa kita pada kesimpulan yang lebih mendasar: pendidikan bukan sekadar soal pertumbuhan institusi, tetapi tentang dampak nyata pada manusia. Ukuran keberhasilan pendidikan bukan berapa banyak yang masuk, tetapi sejauh mana yang keluar menjadi pribadi yang matang—secara intelektual, moral, dan sosial.

Jika kita belajar dari kerangka Geertz, maka tantangan pendidikan hari ini adalah menghindari jebakan involusi: kerja keras yang tidak menghasilkan kemajuan berarti. Untuk itu, diperlukan keberanian melakukan pembenahan mendasar—pada sistem, manajemen, kurikulum, hingga orientasi pendidikan itu sendiri. Pendidikan harus diarahkan untuk menjadi sistem yang adaptif, responsif, dan berkeadilan, sehingga setiap peserta didik memiliki peluang yang sama untuk berkembang.

Pada akhirnya, pendidikan adalah investasi jangka panjang. Ia ibarat menanam, bukan sekadar memanen. Jika ditanam dengan benar—dengan kualitas, kesadaran, dan visi yang jelas—maka hasilnya akan melampaui generasi. Namun jika hanya mengejar kuantitas tanpa arah, kita hanya akan mengulang pola involusi: bergerak, tetapi tidak maju.

Balung, 29 Maret 2026

Ditulis oleh: Admin Pesantren Muadalah