Artes Liberales dan Pesantren

  • 7 Januari 2026
  • 68 views
Artes Liberales dan Pesantren

Oleh: KH. Hadiyanto Arief, SH., M.Bs.
(Pimpinan Pesantren Darunnajah Jakarta)

Sering kali saya bertanya dalam hati: bagaimana mungkin orang-orang dulu—para kakek kita, para ulama generasi terdahulu—tumbuh menjadi pribadi yang begitu matang, bijak, dan berwibawa, sementara latar pendidikan formal mereka, jika diukur dengan standar hari ini, tidaklah setinggi kita? Banyak di antara mereka hanya belajar di madrasah sederhana atau “sekadar” mondok di pesantren. Namun cara berpikirnya jernih, pandangannya luas, dan kepribadiannya kokoh.

Keheranan yang sama juga muncul ketika menengok sejarah para Sahabat Rasulullah ﷺ. Mereka mampu mengelola dan menguasai wilayah yang sangat luas, bahkan setengah dunia, tanpa gelar akademik, tanpa jenjang S2 atau S3, dan tanpa sistem pendidikan formal sebagaimana kita kenal sekarang. Pertanyaan itu lama menggantung dalam benak saya, hingga suatu saat saya menemukan sebuah pola yang membuat semuanya terasa jauh lebih masuk akal.

Jawaban itu saya temukan ketika membaca kisah Alexander the Great. Di usia yang relatif muda, ia berhasil menaklukkan wilayah yang sangat luas. Banyak orang mengaitkan kehebatannya dengan keberanian pribadi atau keunggulan militernya. Padahal, salah satu kunci penting keberhasilannya justru terletak pada pendidikan yang ia terima sejak kecil. Alexander dididik langsung oleh Aristoteles—seorang guru yang tidak sekadar mengajarkan pengetahuan, tetapi membentuk struktur berpikir muridnya. Aristoteles mendidiknya dengan sebuah pendekatan yang kini dikenal kembali sebagai Artes Liberales, tradisi pendidikan klasik yang bertujuan membentuk manusia secara utuh: cara berpikirnya, cara menyampaikan gagasannya, hingga kemampuannya membaca realitas dan semesta.

Dalam kerangka inilah Alexander ditempa. Ia belajar memahami makna melalui grammar, dilatih berpikir lurus dan sistematis melalui logika, serta diajari berbicara dengan adab dan wibawa melalui retorika. Ia juga diajak memahami keteraturan alam melalui matematika, geometri, musik sebagai struktur harmoni, hingga astronomi untuk membaca langit dan menavigasi perjalanan jauh. Hasilnya, Alexander tidak hanya tampil sebagai pemimpin yang berani, tetapi juga sebagai pemikir strategis yang peka terhadap budaya, cermat membaca situasi politik, dan mampu mengambil keputusan jangka panjang. Pendidikan yang menyentuh akar kemanusiaan, pada akhirnya, memang mampu “mengorbitkan” manusia.

Yang membuat saya tersenyum adalah kesadaran bahwa jauh sebelum istilah Artes Liberales kembali populer—bahkan jauh sebelum wacana Kurikulum Merdeka digaungkan—pesantren ternyata telah mempraktikkan pendekatan semacam ini selama ratusan tahun. Di pesantren, kita belajar grammar melalui nahwu dan sharaf, berpikir runtut melalui manthiq, serta mengasah kepekaan bahasa dan makna melalui balaghah. Kita mengenal aritmetika melalui perhitungan zakat, memahami geometri dan astronomi melalui hisab waktu salat dan ilmu falak, serta membaca keteraturan alam melalui fiqh dan pelajaran-pelajaran dasar sains. Tanpa menyebut istilah Latin, struktur Trivium dan Quadrivium sesungguhnya telah lama hidup dan berdenyut dalam tradisi keilmuan Islam.

Pada titik inilah, keheranan saya menemukan jawabannya. Orang-orang terdahulu menjadi pribadi-pribadi besar bukan karena hidup mereka lebih mudah, dan bukan pula semata karena bakat alami. Mereka ditempa oleh sebuah model pendidikan yang membangun dari akarnya: akal yang terlatih, hati yang terjaga, dan adab yang menjadi fondasi seluruh ilmu. Pendidikan mereka mungkin tampak sederhana dari luar, tetapi sesungguhnya sangat dalam dari dalam. Dan tanpa disadari, pendidikan itu telah “merdeka” jauh sebelum kata tersebut hadir sebagai istilah resmi dalam kebijakan negara kita hari ini.

Ditulis oleh: admin

Konten Terkait