Pendidikan Akhlak: Mengembalikan Ruh Pendidikan

  • 8 Januari 2026
  • 76 views
Pendidikan Akhlak: Mengembalikan Ruh Pendidikan

Oleh: KH. Anang Rikza Masyhadi, MA., Ph.D.
(Pimpinan Pondok Modern Tazakka)

Akhir-akhir ini, wacana tentang pentingnya pendidikan karakter kembali menghangat dan menjadi perhatian banyak pihak. Isu ini dibicarakan di berbagai forum, mulai dari pendidikan dasar hingga perguruan tinggi. Menurut hemat saya, perhatian tersebut merupakan langkah yang sangat baik. Namun demikian, konsep “pendidikan karakter” itu sendiri masih memerlukan pendalaman dan diskusi yang berkelanjutan agar tidak berhenti sebatas jargon atau program administratif semata.

Untuk memahami persoalan ini secara lebih mendasar, saya ingin memulai dari pembedaan antara pendidikan dan pengajaran. Dua istilah ini kerap digunakan secara bergantian, padahal keduanya memiliki makna dan orientasi yang berbeda. Prof. Dr. Mahmud Yunus menjelaskan bahwa pendidikan atau mendidik adalah usaha menyiapkan anak agar mampu menggunakan tenaga, pikiran, dan bakatnya sebaik mungkin sehingga mencapai kehidupan yang utuh dan sempurna di tengah masyarakat. Sementara itu, pengajaran adalah proses menyampaikan ilmu pengetahuan kepada anak agar ia menjadi pandai.

Dengan kata lain, pendidikan adalah proses transformasi nilai (value), sedangkan pengajaran adalah proses transfer ilmu pengetahuan (knowledge). Pendidikan berorientasi pada pembentukan kepribadian, sementara pengajaran lebih menekankan pada pencapaian kompetensi keilmuan. Keduanya tentu sama-sama penting, tetapi tidak bisa dipertukarkan, apalagi dipisahkan.

Sekolah, pesantren, perguruan tinggi—apa pun nama lembaganya—sejatinya harus menjadi ruang pendidikan, bukan sekadar tempat pengajaran. Demikian pula para pendidik, baik guru, dosen, ustadz, maupun kiai, tidak cukup hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga harus menjadi pendidik. Sebab, realitas hari ini menunjukkan bahwa tidak sedikit pendidik yang mampu mengajar dengan baik, namun belum sepenuhnya menjalankan fungsi mendidik.

Hakikat mendidik terletak pada keteladanan (uswatun hasanah). Anak-anak belajar bukan hanya dari apa yang mereka dengar, tetapi terutama dari apa yang mereka lihat dan rasakan. Apa yang dilihat, didengar, dan dialami anak setiap hari akan membentuk kepribadiannya. Jika lingkungan yang mereka hadapi sarat dengan nilai-nilai positif, maka karakter yang tumbuh pun cenderung positif. Sebaliknya, jika yang mereka saksikan adalah perilaku negatif, maka hasilnya pun akan demikian.

Karena itu, seorang guru, dosen, ustadz, atau kiai harus siap dan menyiapkan diri untuk menjadi figur yang layak diteladani—dalam ucapan, sikap, gerak-gerik, dan perilaku sehari-hari. Lingkungan pendidikan pun harus dibangun sebagai ruang keteladanan kolektif yang bermuara pada nilai-nilai akhlakul karimah.

Hal ini sejalan dengan sabda Rasulullah SAW, “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Muslim). Hadis ini menegaskan bahwa arah pembentukan kepribadian anak sangat ditentukan oleh orang tua, pendidik, dan lingkungan sekitarnya.

Al-Qur’an juga menegaskan prinsip pendidikan ini dalam firman Allah SWT: “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui apa pun, lalu Dia memberikan kepadamu pendengaran, penglihatan, dan hati, agar kamu bersyukur.” (QS. An-Nahl [16]: 78). Ayat ini menggambarkan proses pendidikan manusia—dari tidak mengetahui apa-apa, kemudian belajar melalui pendengaran, penglihatan, dan hati nurani. Namun, tujuan akhirnya ditegaskan dengan jelas: agar kamu bersyukur. Inilah capaian pendidikan sejati, yaitu kematangan spiritual dan akhlak mulia.

Dengan demikian, tujuan akhir pendidikan adalah melahirkan manusia berakhlakul karimah. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak.” (HR. Ahmad). Jika pendidikan kehilangan orientasi ini, maka ia telah kehilangan ruhnya.

Sayangnya, praktik pendidikan dewasa ini lebih banyak menekankan aspek pengajaran daripada pendidikan. Keberhasilan peserta didik diukur hampir semata-mata dari capaian akademik, bukan dari kualitas akhlak dan perilaku sehari-hari. Kenaikan kelas dan kelulusan ditentukan oleh nilai ujian, bukan oleh sejauh mana anak berkembang secara mental, moral, dan kepribadian.

Akibatnya, kita menjumpai fenomena anak yang cerdas secara akademik, tetapi lemah dalam karakter; pandai, tetapi tidak menghormati orang tua dan guru; cakap, tetapi tidak bersahabat dengan sesama; bahkan pintar, namun merusak lingkungan. Tawuran pelajar, penyalahgunaan narkoba, pergaulan bebas, aksi konvoi kelulusan yang tidak mendidik, hingga praktik menyontek massal dalam ujian, adalah potret kegagalan pendidikan akhlak yang tidak bisa kita abaikan.

Oleh karena itu, pembenahan harus segera dilakukan secara bersama-sama. Orang tua, sekolah, lingkungan, dan negara perlu bersinergi untuk mengembalikan fungsi pendidikan pada hakikatnya. Sekolah dan lembaga pendidikan harus kembali menjadi ruang pembentukan karakter, bukan sekadar tempat mentransfer pelajaran.

Penekanan pada pendidikan akhlak dan kepribadian harus lebih menonjol daripada sekadar penyampaian ilmu pengetahuan. Untuk itu, kita tidak perlu mencari jauh-jauh ke Barat atau negara lain. Islam telah memberikan teladan paling sempurna melalui pribadi Rasulullah SAW. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya pada diri Rasulullah terdapat suri teladan yang baik bagimu, bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan hari akhir serta banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab [33]: 21).

Jika teladan itu digali, diajarkan, dan dihidupkan dalam dunia pendidikan kita, insya Allah nilai-nilai akhlakul karimah tidak akan pernah habis untuk diwariskan kepada generasi penerus bangsa.

Ditulis oleh: admin