“Seratus persen agama. Seratus persen umum.”— K.H. Imam Zarkasyi
Kalimat-kalimat besar sering kali tidak lahir dari rangkaian kata yang panjang, melainkan dari pandangan hidup yang jernih. Semakin dalam seseorang memahami hakikat kehidupan, semakin sederhana pula bahasa yang digunakannya. Demikian pula kalimat Kiai Imam Zarkasyi ini. Begitu singkat, tetapi mengandung sebuah pandangan tentang ilmu, pendidikan, manusia, bahkan peradaban: “Seratus persen agama. Seratus persen umum.” Kalimat itu lahir bukan sebagai jawaban administratif tentang kurikulum, melainkan sebagai pernyataan tentang cara memandang ilmu. Presiden Soeharto pernah bertanya kepada Kiai Imam Zarkasyi, “Berapa persen pelajaran agama dan berapa persen pelajaran umum di Gontor?” Beliau menjawab dengan kalimat yang menghapus seluruh batas: “Seratus persen agama. Seratus persen umum.” Sekilas terdengar paradoks. Sesungguhnya, paradoks itu hanya muncul bagi cara berpikir yang terbiasa membelah sesuatu menjadi dua kutub yang saling berhadapan.
Dari sinilah tampak bahwa jawaban Kiai Imam Zarkasyi sesungguhnya tidak sedang menjawab pertanyaan tentang komposisi mata pelajaran. Beliau sedang mengoreksi cara berpikir yang sejak lama memisahkan ilmu menjadi dua wilayah yang seolah-olah berbeda hakikatnya. Padahal, apabila seluruh ilmu berasal dari Allah, tidak ada alasan untuk memisahkannya menjadi ilmu yang sakral dan ilmu yang sekuler. Perbedaan hanya terletak pada objek kajian, sedangkan tujuan akhirnya tetap satu, yakni mengenal kebenaran serta mengabdi kepada-Nya.
Melampaui Dikotomi Ilmu
Sesungguhnya Kiai Imam Zarkasyi sedang menolak dikotomi ilmu yang sejak lama membelah kesadaran umat Islam. Pembagian antara ilmu agama serta ilmu umum bukan berasal dari ajaran Islam, melainkan dari konstruksi sejarah yang perlahan memisahkan wahyu dari kehidupan. Akibatnya, agama dipersempit menjadi urusan masjid, sedangkan ilmu pengetahuan dianggap hanya mengurus dunia. Padahal, Islam tidak pernah mengenal pemisahan seperti itu. Seluruh ilmu lahir dari sumber yang sama, berjalan menuju tujuan yang sama, serta menemukan kemuliaannya ketika mengantarkan manusia mengenal Allah.
Bangunan epistemologi Imam al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulum al-Din sering diringkas oleh para ulama dalam ungkapan: “Kullu ‘ilmin syar’iyyin ‘aqliyyun wa kullu ‘ilmin ‘aqliyyin syar’iyyun.” Ungkapan tersebut merangkum pandangan al-Ghazali bahwa syariat tidak dapat dipahami tanpa akal, sedangkan akal mencapai kesempurnaannya ketika dibimbing oleh wahyu. Karena itu, kemuliaan suatu ilmu tidak ditentukan oleh kategorinya sebagai ilmu agama atau ilmu umum, melainkan oleh sejauh mana ilmu tersebut mengantarkan manusia mengenal Allah, menegakkan kemaslahatan, serta menjaga keteraturan kehidupan yang dikehendaki syariat.
Pandangan tersebut sejalan dengan pemikiran Syed Muhammad Naquib al-Attas yang menegaskan bahwa krisis terbesar pendidikan modern bukan terletak pada kekurangan ilmu, melainkan pada hilangnya adab terhadap ilmu. Tatkala ilmu dipisahkan dari makna ketuhanan, lahirlah manusia yang cerdas tetapi kehilangan hikmah. Tatkala ilmu dikembalikan kepada tauhid, seluruh disiplin ilmu berubah menjadi jalan mengenal Allah. Karena itu, jawaban Kiai Imam Zarkasyi bukan sekadar semboyan pendidikan, melainkan penegasan bahwa tauhid merupakan fondasi seluruh bangunan ilmu pengetahuan.
Menyucikan Pencari Ilmu
Tasawuf selalu mengingatkan bahwa persoalan utama pendidikan bukan terletak pada banyaknya pengetahuan, melainkan pada kebersihan jiwa yang menerima pengetahuan itu. Tazkiyat al-nafs menjadi syarat agar ilmu berubah menjadi cahaya, bukan sekadar informasi. Al-Junaid al-Baghdadi menyebut keikhlasan sebagai ruh seluruh amal. Ibnu Qayyim al-Jauziyyah mengingatkan bahwa hati merupakan sumber seluruh perilaku. Kerusakan hati akan mengubah ilmu menjadi kesombongan, ambisi, bahkan alat penindasan.
Ilmu yang tidak disertai keikhlasan hanya akan melahirkan kebanggaan. Ilmu yang tidak ditempa melalui mujahadah mudah berubah menjadi alat memenuhi ambisi. Sebaliknya, ilmu yang tumbuh dari tazkiyat al-nafs akan melahirkan hikmah, sebab hati yang bersih selalu lebih mampu menangkap cahaya daripada pikiran yang sekadar dipenuhi informasi.
Karena itu, semboyan “Seratus persen agama. Seratus persen umum,” sesungguhnya berbicara tentang pembentukan manusia sebelum pembentukan kurikulum. Seluruh pelajaran menjadi ibadah apabila dipelajari dengan niat yang benar. Seluruh aktivitas menjadi pendidikan apabila dijalani sebagai mujahadah. Matematika melatih kejujuran berpikir. Kedokteran menumbuhkan kasih sayang. Pertanian mengajarkan amanah memakmurkan bumi. Fisika memperlihatkan keteraturan ciptaan-Nya. Seluruh ilmu bertemu pada satu tujuan, yakni melahirkan hamba yang semakin mengenal Tuhannya.
Jalaluddin Rumi pernah mengingatkan bahwa cahaya tidak masuk ke dalam bejana yang penuh oleh dirinya sendiri. Ilmu pun demikian. Hati yang dipenuhi kesombongan hanya akan mengumpulkan pengetahuan. Hati yang dipenuhi kerendahan justru memperoleh hikmah. Pendidikan sejati akhirnya bukan proses memenuhi kepala, melainkan proses membersihkan jiwa.
Membangun Manusia Utuh
Tradisi pesantren sejak awal tidak dibangun untuk melahirkan spesialis yang terpisah dari kehidupan. Pesantren berusaha membentuk manusia yang utuh. Masjid mendidik ruhani. Kelas mempertajam akal. Asrama melatih kesabaran. Organisasi membentuk kepemimpinan. Pengabdian menumbuhkan keikhlasan. Seluruh lingkungan berubah menjadi kurikulum yang hidup.
Gontor mewarisi pandangan tersebut. Pendidikan tidak berhenti pada transfer ilmu, melainkan berlangsung sebagai pembentukan kepribadian dan karakter sepanjang waktu. Sebab manusia tidak hanya hidup dengan pengetahuan. Manusia hidup dengan nilai, adab, tanggung jawab, serta kesadaran akan tujuan penciptaannya. Ibnu Miskawaih telah lama menjelaskan bahwa pendidikan mencapai kesempurnaannya ketika ilmu melahirkan akhlak. Ibnu Khaldun menambahkan bahwa kekuatan peradaban lahir dari karakter manusia yang dibentuk secara terus-menerus, bukan semata-mata dari kecanggihan ilmu pengetahuan.
Perspektif inilah yang menjadikan pendidikan di Gontor tidak pernah berhenti pada penguasaan ilmu. Seluruh proses pendidikan diarahkan untuk menyatukan kecerdasan intelektual, kematangan spiritual, keluhuran akhlak, serta kesiapan mengabdi kepada umat. Pendidikan akhirnya bukan sekadar proses belajar, melainkan proses menjadi manusia.Kalimat Kiai Imam Zarkasyi akhirnya menjelma menjadi visi peradaban. Pendidikan tidak boleh melahirkan ahli agama yang asing terhadap realitas. Pendidikan juga tidak boleh menghasilkan ilmuwan yang kehilangan kompas moral. Peradaban memerlukan manusia yang akhlaknya luhur, jiwanya bersih, pikirannya tercerahkan, serta pengabdiannya tulus. Itulah manusia yang dibentuk oleh pendidikan yang seratus persen agama sekaligus seratus persen umum.
Penutup
Barangkali persoalan terbesar pendidikan bukan terletak pada kurikulum yang terlalu padat atau terlalu sedikit. Persoalan sesungguhnya muncul ketika manusia mulai memisahkan apa yang sejak awal dipersatukan oleh tauhid. Saat ilmu dipisahkan dari Tuhan, ilmu kehilangan arah. Saat agama dipisahkan dari kehidupan, agama kehilangan daya hidup. Sejak saat itu, manusia memang mengetahui banyak hal, tetapi gagal memahami makna keberadaannya sendiri.
Kalimat singkat Kiai Imam Zarkasyi tetap bergema melampaui ruang dan zaman karena sesungguhnya bukan berbicara tentang komposisi mata pelajaran. Kalimat itu berbicara tentang cara memandang kehidupan. Seluruh ilmu berasal dari Allah. Seluruh ilmu bergerak menuju Allah. Seluruh ilmu semestinya mengantarkan manusia semakin mengenal Allah. Barangkali di situlah makna terdalam pendidikan: bukan menjadikan manusia mengetahui lebih banyak, melainkan menjadikan setiap pengetahuan semakin mendekatkannya kepada Sang Pencipta. Sebab pada akhirnya, seluruh ilmu berawal dari-Nya, berjalan bersama-Nya, lalu kembali kepada-Nya.
Bajang, 29 Juni 2026
Nur Hadi Ihsan
Dosen Universitas Darussalam Gontor
Konten Terkait
SILATNAS FKPM Salafiyah di Nurul Qarnain Jember Perkuat Manhaj dan Kolaborasi Pesantren Tingkat Nasional
Jember — Pondok Pesantren Nurul Qarnain, Sukowono, Jember, menjadi tuan rumah kegiatan Silaturahim Nasional (SILATNAS)

